
Sabtu, 03 Mei 2008

Adelaide Pollard merencanakan untuk pergi ke Afrika sebagai seorang utusan Injil, tetapi pada saat-saat terakhir rencana itu dibatalkan karena keterbatasan dana. Jadi tak heran bila dalam persekutuan doa setelah itu, ia begitu murung. Namun doa seorang wanita tua mengusir kegelapan dalam hatinya: "Ya, Tuhan! Kami tidak berkeberatan menerima apa yang Kauizinkan terjadi dalam hidup kami. Yang penting bagi kami adalah biarlah kehendak-Mu terlaksana!" Seketika itu juga Adelaide Pollard menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan menemukan kedamaian.
Sorenya, ia mengkaji cerita tentang tukang periuk dalam Yeremia 18:4 - Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Ia mere-nungkan tentang bejana yang rusak di tangan tukang periuk itu. Apa yang rusak itu ke-mudian dibentuk kembali sehingga menjadi bejana lain yang lebih bagus. Ia pun menya-dari bahwa ia juga harus menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan membiarkan Tuhan membentuk kehidupannya sesuai dengan rencana-Nya.
Selanjutnya sebuah puisi melintas di benaknya: "Kaulah sang Tukang Periuk, aku tanah liatnya. Bentuklah aku sesuai kehendak-Mu, sementara aku akan menunggu dan berserah." Akhirnya, pada waktu yang ditentukan oleh Allah sendiri, Pollard pun diizin-kan Tuhan untuk melayani di Afrika, Inggris, dan bahkan di seluruh Amerika Serikat.Allah mendengarkan orang yang dengan tulus berdoa, "Jadilah kehendak-Mu, Tuhan." Bertanyalah kepada diri Anda sendiri: Apakah aku sudah membiarkan Tukang Periuk yang Agung membentuk hidupku menurut kehendak-Nya?
DALAM PENYERAHAN DIRI TERDAPAT KEDAMAIAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar