WELCOME TO CAMPUS MINISTRY

Campus Ministry

Minggu, 27 Juli 2008

Anak-Ku, Aku Bapamu


AnakKu, sebelum matahari muncul di ufuk timur dan sebelum ayam berkokok menberitahukan pagi, Aku memanggil namamu namun engkau tidak terjaga. Aku kecup keningmu, kubelai rambutmu. Sayang, Aku ingin bercakap-cakap dengan engkau.

Ketika sinar mentari menerobos masuki kamarmu, engkau terbangun dan hampiriKu, " Selamat pagi Bapa ...". Ah ! saat itu juga Aku memberimu kasih karunia, anugerah, rahmat dan pengurapan yang baru. Ya walaupun kadang engkau bangun kesiangan lalu bergegas mandi tanpa menyapaKu.

Pun ketika engkau pergi untuk menyelesaikan tugas hari ini, engkau membawa bekal yang telah kusiapkan; kasih setia, kebaikan, kemurahan, belaskasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaranKu yang mengenyangkanmu yang untuk juga kau bagikan untuk teman-temanmu. Padahal nak, kau sadari atau tidak Aku ada ditengah-tengah engkau ketika engkau terbahak ditengah kegembiraan canda dengan teman-temanmu.

Nak, Aku menyayangimu. Kau tahu anakKu, engkau menempati tempat yang special di hatiKu yang tidak dapat digantikan siapapun. Tapi nak, terkadang Aku begitu sedih dan menahan hati karena kerasnya hatimu ketika menginginkan sesuatu yang Aku tidak izinkan atau Aku katakan, " tunggu dulu" dan engkau tetap lakukan. Ingatkah engkau, engkau pernah berkata, " ... biar kehendak Bapa yang jadi ". Nak, nak... Aku sempat geleng-geleng kepala. Kau tahu itu membuatKu sedih?

Seakan engkau tidak percaya hatiKu. Sungguh, Aku ingin yang terbaik bagi engkau tetapi engkau sulit mengerti Aku. Sampai Aku sendiri harus menghajar engkau untuk mendisplin sehingga engkau menyadari bahwa Aku tahu apa yang terbaik bagi anakKu sendiri. Aku hendak mengajar dan menunjukkan padamu jalan yang harus kau tempuh, Aku hendak memberi nasehat kepadamu. Lihat mataKu, tertuju padamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal yang kegarangannya harus dikendalikan oleh tali les atau kekang kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.

Sekali waktu engkau datang padaKu dengan air mata berderai sampai nafasmu pun tersengal. Engkau berteriak memanggil dan mencari Aku, "Bapa, Bapa,...". Ini Aku nak, jangan takut. Aku tidak tinggalkan engkau sendirian. Seandainya engkau bisa melihat hatiKu, pedihnya melebihi luka yang kau rasa, pilunya kutanggung air mataKu lebih dari engkau tanggung. Bebanmu adalah bebanKu juga.

Selama hidupmu Aku selalu bersamamu, datang padaKu ketika engkau takut. Aku mengurung engkau dari depan dan dari belakang, tanganKu Kutaruh atasmu. Lihat kepadaKu jika engkau ragu untuk memilih dan memutuskan sesuatu dalam engkau menempuh kedewasaanmu. Hampiri Aku jika engkau lelah, sampai masa tuamu Aku tetap Bapamu, sampai masa putih rambutmu pun Aku mau menggendong engkau, bukankah Aku telah melakukannya dan Aku akan menanggung engkau terus. Aku mau memikul dan menyelamatkan engkau.

Aku Bapamu di hari-harimu yang manis, Aku juga Bapamu di hari-harimu yang tidak manis. Waktu engkau ditinggal teman-temanmu sendirian karena kurangnya pengertian dalam hidupmu. Tak seorangpun berdiri bersama engkau ketika engkau membutuhkannya, melupakan dan tidak menyayangi engkau, Aku tidak. Coba kamu pikir, dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tanganKu supaya senantiasa engkau tetap di ruang mataKu. Sebab rasa cintaKu kepadamu selebar samudra yang tak bertepi, lebih luas lagi; setinggi langit yang tak terbatas, lebih tinggi lagi; sedalam lautan yang tak terselami, lebih dalam lagi.

Dan ketika engkau telah menyelesaikan hari ini, Ku lihat engkau terlalu lelah untuk menyapaKu. Mari Nak, bersihkan dirimu, segarkan dengan air hidupKu maka engkau akan mendapat kekuatan baru, seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, dia berlari tidak menjadi lesu dan berjalan tidak menjadi lelah. Makanlah firman yang telah kusiapkan untukmu, maka engkau tidak lapar lagi lalu istirahatkan dirimu dalam hadiratKu dengan perlindunganKu. Dan Aku akan menjaga engkau sampai menjelang hari esok yang penuh harapan dan Aku akan perintahkan berkat-berkatKu atasmu pada waktu engkau tidur. Selamat malam Nak...

Jumat, 25 Juli 2008

Anak Kecil Penjaja Kue

Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dek saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergidari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?". Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang. Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
CATATAN : Semoga cerita di atas bisa menyadarkan kita tentang arti pentingnya kerja. Bukan sekadar untuk uang semata. Jangan sampai mata kita menjadi "hijau" karena uang sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki. Sekecil apapun profesi itu, kalau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berarti besar.

Sabtu, 19 Juli 2008

Belajar Dari Anak Burung Elang


Pagi itu kumasuki ruang kantorku di lantai 31, lantai tertinggi di salah satu gedung pencakar langit Jalan Imam Bonjol. Bangunan kantor ku terbilang agak tua dengan bentuk seluruh bangunan dikelilingi oleh jendela kaca. Ruang kerjaku yang kutempatkan bersama seorang rekan lainnya juga dipartisi oleh kaca, yah tidak beda dengan aquarium kosong. Seperti biasanya aku langsung sibuk menghadap monitor dan membaca beberapa e-mail, tiba-tiba saja aku dengar bunyi pletak.. cukup keras, karena ruang kerjaku juga dikelilingi oleh kaca, aku bisa melihat pantulan seekor burung yang baru saja menabrak jendela.

Tadinya kupikir ada burung yang bodoh atau sakit, kok ya bisa nyasar menabrak kaca, atau memang burung itu kesasar dan sedang mencari sarangnya dan mencoba menembus jendela kaca. Dari bunyinya yang cukup keras pasti benturan itu sakit sekali. Tapi anehnya hal itu terjadi berkali-kali. Akhirnya dengan sengaja kupunggungi monitorku, sambil duduk kuarahkan perhatianku ke jendela, dan kulihat ada seekor anak burung elang yang rupanya sedang belajar terbang, dikepak-kepakkan sayapnya sambil terbang oleng ke kiri dan ke kanan, kadang tampak seperti akan jatuh tapi berhasil naik lagi dan kalau sudah membentur kaca maka ia akan melesat terbang lebih tinggi serta mencari tempat di pipa yang menyangga kaca jendela untuk beristirahat.

Keesokan harinya begitu tiba di kantor dengan sengaja kulihat ke bawah jendela dan tampak 2 ekor anak burung sedang terpekur di atas pipa, mungkin takut, sakit dan cape sehabis berlatih kemarin dan hari ini harus mencoba lagi. Benar saja siangnya kembali terdengar beberapa kali bunyi pletak... tidak sesering kemarin tapi toh masih terjadi. Hal ini berlangsung sekitar 5 hari.

Hari ini merupakan hari ke lima, kembali aku memandang jendela dan melihat 2 ekor anak burung terbang dengan gagah, manakala dia hampir menyentuh kaca jendela (masih berjarak kira-kira 50 cm) maka dia akan melesat, menghindari tabrakan dengan kaca, ah si burung elang sudah pandai terbang sekarang dan dia terbang dengan begitu gagahnya.

Aku duduk merenung, bukankah hal itu sama juga dengan perjuangan kita dalam mewartakan kabar sukacita. Seringkali kita bukan hanya tersandung tapi terbentur tembok. Berapa banyak dari kita yang kemudian hanya duduk diam terpekur tanpa punya keinginan untuk bangkit ketika kita menabrak tembok, menemukan kegagalan dan ditolak mentah-mentah? Kita cenderung merasa nyaman dengan perasaan mengasihani diri sendiri tanpa ada keinginan untuk bangkit. Padahal kalau kita mau mencoba lagi seperti yang dilakukan oleh anak burung saat belajar terbang maka kita akan dapat juga merentangkan ‘sayap’ kita dengan penuh sukacita. Terbang seperti yang banyak dilakukan oleh para misioner, para biarawan-biarawati dan mereka yang terpanggil untuk melayani, pergi meninggalkan ayah dan bundanya, meninggalkan kampung halaman untuk membagikan kasih kepada mereka yang memerlukan perhatian, pendampingan, persahabatan dan persaudaraan.

Bagaimana dengan Yesus? Yesus sendiri juga kerap ditolak, bukan hanya oleh kaum Farisi, tapi juga oleh hampir seluruh suku bangsa-Nya sendiri, bahkan di kota kelahiran-Nya pun Dia ditolak, tapi Yesus toh tetap meneruskan karya yang sudah dirintis-Nya sampai Dia menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib yang hina itu. Kalau penat maka Yesus akan mencari tempat perhentian untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Tapi begitu Dia merasa sudah lebih baik, maka Yesus akan meneruskan tugas pelayanan-Nya.

Semuanya berpulang kepada kita mau menyerah atau tetap berjuang. Hidup mewartakan kabar sukacita bukanlah suatu hal yang serba instant dan praktis melainkan suatu proses, butuh ketekunan, kesabaran, ketelatenan dan kasih. Maukah kita belajar dari dari anak burung elang tersebut, untuk mau mencoba, mencoba dan mencoba lagi manakala kita gagal, manakala kita ditolak bahkan disingkirkan?

Selasa, 15 Juli 2008

ALLAH YANG SETIA


Saat itu aku merasa tak berdaya
Saat itu aku begitu gelisah dan putus asa
Saat itu aku bingung akan jalan hidupku
Saat itu aku takut akan masa depanku

HIdupku berjalan terasa lambat
Ketidakpastian membuatku semakin penat
Semua tampaknya sia-sia belaka
Setiap hal terasa semakin hampa
Aku tahu Tuhan sayang padaku
Dan Dia tahu akupun menyayangiNya
Tapi kekuatiran yang besar akan masa depanku
Menggiringku pada batas ambang percaya

Sempat terlintas Tuhan tak mendengarku
Sempat terbersit Dia mengabaikanku
Sempat terpikir Tuhan mengujiku
Dan terparah aku bertanya apakah Dia menjebakku

Malam itu aku menghampiriNya
Hari itu aku mencoba lagi bertanya
Dalam segala rasa yang ada
Kudatang padaNya tanpa daya

Tiba-tiba kudengar kembali suara merduNya
Kurasakan lagi damai dan cinta kasihNya
Meski aku tidak melihat wajahNya
Aku masih ingat sekali akan suaraNya

"Aku ini Allah yang setia"
"Apapun kamu, Aku tetap Allah yang setia"
"Siapapun kamu, Aku masih Allah yang setia"
"Bagaimanapun kamu, namaKu Allah yang setia"

Bagaikan disiram air yang sejuk dan segar
Memuaskan seluruh rasa dahaga dan lapar
Bebanku terangkat sudah, segala gelisahku punah
Semua pergumulanku selesai sudah

PS:
*** Tuhan seringkali terasa lambat, tapi ingatlah bahwa Dia tak pernah terlambat maupun terlalu cepat.
*** Tangan kasihNya tak kurang panjang menjangkau semua keperluan kita, dan telingaNya tak kurang tajam mendengar setiap tarikan nafas kita.
*** Tuhan mengenal kita jauh lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Aleluya.

Sabtu, 12 Juli 2008

Aku Terharu


Dua thaun yang lalu. Ketika saya mengunjungi sebuah took buku di Taipei dan membolak – balik buku yang dipajang di sana. Saya tertarik pada sebuah buku dengan design sampul berwarna putih, dengan foto seorang Ibu yang dengan wajah penuh kasih menciumi anaknya yang kira – kira berumur dua tahun yang sedang tertidur nyenyak. Judul buku tersebut hanya terdiri dari dua huruf Cina, “Gandong”, yang bisa diterjemahkan dengan kata “terharu”. Hanya dengan melihat judul buku tersebut saya sudah merasa terharu, dan karena itu tanpa harus membaca isinya saya langsung membeli buku tersebut.

Dan benar, buku tersebut mengumpulkan kisah – kisah kecil setiap yang dialami oleh banyak orang. Kisah – kisah tersebut walau begitu sederhana, namun ia membawa sebuah makna yang teramat dalam, yang mengetuk setiap hati dari mereka yang membacanya untuk mencoba mencintai dan mengasihi apa yang kelihatan kecil dan bahkan tak berguna. Dalam buku ini dikisahkan bagimana anak – anak merasa terharu atas sebuah tindakan yang nampaknya sederhana yang dilakukan seorang Ibu. Juga dikisahkan bagaimana seorang Ayah dengan tindakan penuh kasih berhasil meluluhkan hati sang anak yang telah membatu. Bagaimana seorang teman telah mampu menyelamatkan nyawa seorang sahabat yang sedang ingin membunuh diri hanya dengan meluangkan waktunya bahkan di tengah malam ketika ia nampaknya tengah dirundung kantuk yang tak tertahankan. Bagaimana seorang guru yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya demi anak ddiknya.
Setiap hari selalu saja ada sesuatu yang mengharukan. Nyanyian burung pipit yang terbang riang di halaman gerejaku terdengar bagaikan suara malaikat yang datang membawa penghiburan. Ternyata alam raya ini juga bisa membuatku terharu. Kemarin setelah selesai seminar liturgy di paroki dan dilanjutkan dengan misa minggu malam. Setelah misa di tengah keletihan setelah segala kegiatan sepanjang hari ini dan ditambah lagi ketika Taipei kini diserang arus dingin yang datang dari utara, seorang umat datang membawa secangkir sup panas ke kantorku. Sungguh ada banyak kejadian yang kendatipun kecil bisa amat mengharukan.

Hari ini ketika aku melihat semua keharuan yang pernah aku alami dalam derap hidupku, tiba – tiba aku jadi terpana mensyukuri rahmat yang pernah dan masih aku terima sebagai seorang pengikut Kristus. Sebagai seorang pengikut Kristus, apa lagi yang lebih mengharukan diriku dari pada keharuan yang dibawa oleh Dia yang rela meninggalkan kebesaran-Nya dan menjadi sama seperti aku, hanya dengan tujuan agar aku disebut anak Allah ? Adakah keharuan yang lebih besar dari pada Dia yang empunya alam semesta ini datang dan berdiri di sampingku, membagi suka dukaku, dan berbisik bahwa tak perlu merasa takut ditinggalkan seorang diri, karena Ia akan selalu bersama aku ? Adakah keharuan yang lebh besar dari pada Dia yang rela ditikam duri hanya karena ingin menyelamatkan diriku yang tersesat dan dililit semak duri tersebut ? adakah keharuan yang lebih besar dari pada Dia yang rela mati agar aku hidup ? pernahkah aku bersyukur atas semuanya ini ??

Sungguh aku kehabisan kata untuk mengungkapkan betapa besarnya rasa keharuan yang ada di dasar batinku. Di hadapan Dia yang telanjang di atas salib, aku hanya bisa memandang-Nya dengan diam. Namun diamku mengungkapkan sejuta kata, diamku mengungkapkan sejuta rasa. Aku beryukur dan berterima kasih, karena aku terharu akan apa yang pernah Kau perbuat untuk diriku yang kecil ini. Amin !!

Minggu, 06 Juli 2008

57 Cents


Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar,ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena "sudah terlalu penuh". Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis ? "Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu" kata si gadis kecil.
Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil. Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaan nya,sehingga pada waktu sebelum tidur di malam itu, ia sempat memikirkan anak anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.
Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu,si gadis kecil "berkawan" dengan sang pastur. Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggal nya didaerah kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah.
Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 cents dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya : "Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu" Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uang nya sampai terkumpul sejumlah 57 cents untuk maksud yang sangat mulia. Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.

Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57cents, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu. Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu(pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton ).

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita.Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Saat ini,jika anda berada di Philadelphia,lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus (yah,beratus ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah Minggu.

Didalam salah satu ruangan bangunan ini,tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 cents, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama yang telah membuat sejarah.Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu, yaitu pastor DR.Russel H.Conwell penulis buku "Acres of Diamonds"---a true story. Kenyataan sejarah yang collosal ini bisa memberikan petunjuk kepada kita semua apa yang dapat DIA lakukan terhadap uang 57 cents.