WELCOME TO CAMPUS MINISTRY

Campus Ministry

Senin, 26 Januari 2009

Pure Heart - By Kharisma


PURE HEART


A pure heart means being an authentic person,

being true to who you are,

being honest and truthful to yourself and others,

forgiving yourself and others when a mistake has been made,

being accepting and non-judgmental both of yourself and others,

focusing / enhancing on what is positive in yourself and others.

Minggu, 25 Januari 2009

Makna Spiritual Imlek

Tahun Baru Imlek terlah tiba. Wajah riang anak-anak terlihat diantara ramainya warna merah yang memberi kesan kuat pada rumah-rumah warga Tionghoa. Perayaan Imlek yang dirayakan oleh berbagai bangsa (China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya) selama berabad-abad menyediakan makna spiritual yang amat kaya bagi mereka yang memahaminya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan mereka dalam semangat hidup yang sama. Mengingat Imlek bukan perayaan keagamaan, maka "makna spiritual" perayaan Imlek tidak pertama-tama digali dalam ajaran agama tertentu. Semula, Imlek merupakan perayaan petani. Makna spiritual Imlek perlu digali dari pengalaman kehidupan dan dunia makna yang berkembang di antara kaum petani. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang bukan dari golongan petani. Karena itu, tidaklah mencukupi pemaknaan spiritual Imlek hanya dibatasi dari dunia pertanian.

Beberapa makna spiritual yang pantas dikedepankan, antara lain:

1. Kasih sebagai faktor pemersatu kehidupan.
Imlek memperlihatkan pengalaman perjumpaan para petani dengan realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi petani, realitas di dunia ini disatukan, disemangati, ditumbuhkan oleh kasih. Karena itu, mereka menemukan dan menggunakan berbagai macam barang, tanaman, atau binatang yang ada di lingkungan mereka untuk menunjukkan pengalaman kasih yang menghidupkan itu. Mereka mengungkapkan harapan kehidupan yang lebih berkualitas dengan menggunakan obyek-obyek itu. Misalnya, ikan dipandang sebagai lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan. Dengan memasang gambar ikan atau memakan ikan, mereka mengharap datangnya kelimpahan itu.

2. Imlek merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan dan berbagi kepada sesama.
Bagi petani, kasih yang membahagiakan itu mereka terima dari kemurahan alam yang dianugrakan Tuhan. Karena itu, mereka pun harus belajar bermurah hati kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu layak untuk dinikmati dalam kebersamaan dengan yang lain, dalam semangat solider kepada sesama, terutama yang lemah, miskin, dan papa.Warna dasar perayaan Imlek adalah merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup. Sebagaimana darah dalam nadi, pengalaman hidup yang penuh semangat dan membahagiakan itu harus mengalir dan meresapi berbagai bagian tubuh untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam perayaan Imlek, dibagikan kepada anak-anak, orang-orang miskin, sederhana, dan papa, hal-hal yang dapat membahagiakan mereka: uang, makanan, hadiah, atau berbagai bentuk bantuan lain. Dengan berbagi kebahagiaan, kasih yang berlimpah itu diharapkan dapat semakin merasuki berbagai sektor kehidupan mereka dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan lebih besar lagi.

3. Pengalaman kasih dimulai di keluarga.
Inti kasih itu tidak terletak dalam banyaknya kata-kata, tetapi dalam tindakan untuk saling memberikan diri kepada subyek yang dikasihi. Kemampuan mengasihi seperti ini disadari oleh para petani dan nonpetani, berawal di dalam keluarga. Pusat perayaan Imlek terletak pada kesediaan seluruh anggota keluarga untuk berkumpul bersama, meninggalkan kepentingan diri, dan berbagi pengalaman kasih dalam keluarga. Puncak perayaan itu diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, saling menghormati, bercerita pengalaman hidup yang membahagiakan, mengampuni, berbagi rezeki, menyampaikan salam berupa doa atau harapan untuk hidup lebih baik, dan sebagainya.

4. Imlek adalah perayaan kebebasan yang inklusif. Kesederhanaan alam pikiran petani tidak banyak memberi tempat pada rumitnya aturan yang harus ditaati. Pada dasarnya Imlek tidak memiliki aturan baku. Seandainya ada, peraturan itu amat umum, tidak menyertakan hukuman bagi pelanggarnya. Dengan demikian, dunia tidak mengenal adanya model tunggal perayaan Imlek. Setiap pribadi, keluarga, atau kelompok masyarakat apa pun, diizinkan merayakan Imlek dengan segala kemampuan, keterbatasan, latar belakang, simbol, dan sistem pemaknaan masing-masing. Kebebasan seperti ini menjadikan Imlek perayaan yang inklusif karena tidak mengeliminasi siapa pun untuk tidak diizinkan merayakannya.

Gong Xi Fa Cai, Selamat Tahun Baru Imlek 2560

Rabu, 21 Januari 2009

Apabila Yesus Datang


Apabila Yesus datang
Apakah kamu akan mengganti pakaianmu sebelum kamu membiarkan Ia masuk?
Atau menyembunyikan beberapa majalah dan meletakkan Alkitab ditempatnya?

Apabila Yesus datang
Apakah kamu akan menyembunyikan musik dunia dan memutar musik kristiani?
Apakah kamu akan membiarkan Yesus masuk atau kamu kuatir?
Dan saya berpikir, jika penyelamat itu menghabiskan waktu 1 – 2 hari dengan kamu,
Apakah kamu akan tetap melakukan pekerjaan yang selalu kamu kerjakan?

Apabila Yesus datang
Apakah kamu akan terus berkata perkataan yang selalu kamu katakan?
Apakah kehidupan akan tetap berjalan dari hari ke hari?

Apabila Yesus datang
Apakah kamu akan membawa Yesus kemana kamu pergi?
Atau mungkin kamu akan merubah rencanamu hanya untuk 1 hari atau seterusnya?

Apabila Yesus datang
Apakah kamu akan senang memiliki Dia untuk tinggal selama-lamanya?
Atau apakah kamu akan menyembah patung besar sewaktu Dia pada waktunya akan pergi?

Apabila Yesus datang
Mungkin suatu hal yang menarik untuk mengetahui hal yang akan kamu lakukan,
Apabila Yesus datang secara pribadi untuk menghabiskan waktu denganmu
Tidak pernah terlambat untuk menjadi apa yang mungkin terjadi