Sabtu, 19 Juli 2008
Pagi itu kumasuki ruang kantorku di lantai 31, lantai tertinggi di salah satu gedung pencakar langit Jalan Imam Bonjol. Bangunan kantor ku terbilang agak tua dengan bentuk seluruh bangunan dikelilingi oleh jendela kaca. Ruang kerjaku yang kutempatkan bersama seorang rekan lainnya juga dipartisi oleh kaca, yah tidak beda dengan aquarium kosong. Seperti biasanya aku langsung sibuk menghadap monitor dan membaca beberapa e-mail, tiba-tiba saja aku dengar bunyi pletak.. cukup keras, karena ruang kerjaku juga dikelilingi oleh kaca, aku bisa melihat pantulan seekor burung yang baru saja menabrak jendela.
Tadinya kupikir ada burung yang bodoh atau sakit, kok ya bisa nyasar menabrak kaca, atau memang burung itu kesasar dan sedang mencari sarangnya dan mencoba menembus jendela kaca. Dari bunyinya yang cukup keras pasti benturan itu sakit sekali. Tapi anehnya hal itu terjadi berkali-kali. Akhirnya dengan sengaja kupunggungi monitorku, sambil duduk kuarahkan perhatianku ke jendela, dan kulihat ada seekor anak burung elang yang rupanya sedang belajar terbang, dikepak-kepakkan sayapnya sambil terbang oleng ke kiri dan ke kanan, kadang tampak seperti akan jatuh tapi berhasil naik lagi dan kalau sudah membentur kaca maka ia akan melesat terbang lebih tinggi serta mencari tempat di pipa yang menyangga kaca jendela untuk beristirahat.
Keesokan harinya begitu tiba di kantor dengan sengaja kulihat ke bawah jendela dan tampak 2 ekor anak burung sedang terpekur di atas pipa, mungkin takut, sakit dan cape sehabis berlatih kemarin dan hari ini harus mencoba lagi. Benar saja siangnya kembali terdengar beberapa kali bunyi pletak... tidak sesering kemarin tapi toh masih terjadi. Hal ini berlangsung sekitar 5 hari.
Hari ini merupakan hari ke lima, kembali aku memandang jendela dan melihat 2 ekor anak burung terbang dengan gagah, manakala dia hampir menyentuh kaca jendela (masih berjarak kira-kira 50 cm) maka dia akan melesat, menghindari tabrakan dengan kaca, ah si burung elang sudah pandai terbang sekarang dan dia terbang dengan begitu gagahnya.
Aku duduk merenung, bukankah hal itu sama juga dengan perjuangan kita dalam mewartakan kabar sukacita. Seringkali kita bukan hanya tersandung tapi terbentur tembok. Berapa banyak dari kita yang kemudian hanya duduk diam terpekur tanpa punya keinginan untuk bangkit ketika kita menabrak tembok, menemukan kegagalan dan ditolak mentah-mentah? Kita cenderung merasa nyaman dengan perasaan mengasihani diri sendiri tanpa ada keinginan untuk bangkit. Padahal kalau kita mau mencoba lagi seperti yang dilakukan oleh anak burung saat belajar terbang maka kita akan dapat juga merentangkan ‘sayap’ kita dengan penuh sukacita. Terbang seperti yang banyak dilakukan oleh para misioner, para biarawan-biarawati dan mereka yang terpanggil untuk melayani, pergi meninggalkan ayah dan bundanya, meninggalkan kampung halaman untuk membagikan kasih kepada mereka yang memerlukan perhatian, pendampingan, persahabatan dan persaudaraan.
Bagaimana dengan Yesus? Yesus sendiri juga kerap ditolak, bukan hanya oleh kaum Farisi, tapi juga oleh hampir seluruh suku bangsa-Nya sendiri, bahkan di kota kelahiran-Nya pun Dia ditolak, tapi Yesus toh tetap meneruskan karya yang sudah dirintis-Nya sampai Dia menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib yang hina itu. Kalau penat maka Yesus akan mencari tempat perhentian untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Tapi begitu Dia merasa sudah lebih baik, maka Yesus akan meneruskan tugas pelayanan-Nya.
Semuanya berpulang kepada kita mau menyerah atau tetap berjuang. Hidup mewartakan kabar sukacita bukanlah suatu hal yang serba instant dan praktis melainkan suatu proses, butuh ketekunan, kesabaran, ketelatenan dan kasih. Maukah kita belajar dari dari anak burung elang tersebut, untuk mau mencoba, mencoba dan mencoba lagi manakala kita gagal, manakala kita ditolak bahkan disingkirkan?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar