Senin, 21 April 2008
Dalam peperangan rohani, Anda mungkin mengalami pesimisme atau negatifisme. Pemimpin rohani pun tak lepas dari godaan semacam itu, dengan cara berhenti dan tidak lagi berperang dalam pelayanannya. Bagaimanakah Allah memandang keadaan seperti itu ? Mungkin, seperti seorang coach terhadap anggota team-nya, Ia seolah berkata kepada Anda: "I need you".
Betulkah raksasa di depan Anda sungguh adalah raksasa ? Atau, hanya pikiran subjective Anda semata ? 1 Sam 17:8-46, menyebutkan bahwa Goliat adalah raksasa bagi bangsa Israel. Ia menantang mereka selama 40 hari, dan tidak seorang pun yang percaya bahwa mereka dapat mengalahkannya, termasuk Saul.
Sementara, keluarga para tentara, dan perwira Israel di rumah, mengira bahwa mereka tengah berperang (lihat ayat 19). Benarkah demikian ? Tidak. Memang, mereka telah mengenakan pakaian perang, pasukan pun telah dikumpulkan, posisi pun tepat di depan bangsa Filistin, sampai 40 hari, tetapi tidak sesuatupun yang terjadi kecuali seorang Goliat menantang dan mengolok-olok mereka dan Allah Israel. Demikian pula seseorang yang mengatakan bahwa ia sedang berperang, fight, atau struggling bukanlah berperang apabila tidak mengambil langkah atau tindakan nyata menghadapi permasalahan atau pergumulannya.
Bangsa Israel tidak menyukai tantangan itu sedemikian hingga tahap menerimanya, comfortable dengan keadaan mereka, dan pada akhirnya terkondisi dalam keadaan yang lebih permanen. Status Quo. Hal serupa mungkin dapat terjadi dalam pernikahan yang menerima permasalahan tanpa mendoakannya lagi, atau mengupayakan perubahan - perubahan nyata di dalam Tuhan. Comfortable dengan masalah yang mengganggu merupakan salah satu raksasa dalam diri seorang Kristen.
Hal lain dalam bangsa Israel, terdapat Eliab yang negatif terhadap orang percaya seperti Daud, bahkan menuduhnya yang bukan-bukan. Dalam lingkungan rohani, Eliab-eliab adalah mereka yang mengintimidasi orang-orang Kristen dengan mengatakan:" Apa gunanya ke gereja lagi ?; "Untuk apa berdoa lagi ?"; "Anda tidak mungkin berubah", dan sebagainya. Ada pula yang seperti Saul, atau Goliat, yang pesimis, memandang rendah bahkan menghina orang lain.
Bangsa Israel, Eliab, Saul dan Goliat bukanlah teladan yang patut Anda tiru. Tetapi, perhatikanlah Daud dan dua hal yang ia lakukan ? Pertama, Daud memulainya dari perspektif Tuhan. Pada ayat 25, orang Israel menyebut Goliath "Si orang itu". tetapi Daud menyebutnya "orang tak bersunat, pencemooh Allah". Orang-orang Israel bertanya "bisakah ?", tetapi Daud bertanya bukankah Allah yang dicemooh Goliat, patutkah ?
Pertanyaan Anda merefleksikan perspektif Anda. Bila Anda menanyakan dengan muatan negativisme, gantilah. Bila Anda menanyakan mampukah Anda, gantilah dengan menanyakan, bukankah Dia dapat memampukan Anda ? Bila Anda menanyakan mungkinkah, gantilah dengan menanyakan, bukankah tidak ada yang mustahil bagi Allah ? Bertanyalah menurut perspektif-Nya.
Kedua, Daud percaya penyertaan Allah setiap masa. Dimasa lalunya, Daud pernah mengalahkan singa. Ia percaya, kemenangan yang diperolehnya bukan karena nasib baik, tetapi karena penyertaan dan pertolongan Tuhan. Demikian pula halnya dengan Anda, kemenangan Anda bukanlah karena kerja keras Anda semata, bukan pula karena inspirasi buku pintar, atau keampuhan buku self help Anda, atau karena Anda bernasib baik, tetapi karena kehebatan Allah.
Tengoklah kembali diary atau jurnal saat teduh Anda di masa lalu, ingatlah kemenangan Anda bersama Dia. Seperti kemenangan Daud di masa depan diinsipirasikan dengan pengalamannya dengan Tuhan di masa lalu. Berbagai permasalahan memang tampak berbeda, tetapi sesungguhnya adalah sama secara rohani, karena permasalahan-permasalahan itu menyangkut hati, iman, integritas, komitmen, disiplin, dan komponen rohani lainnya dalam diri Anda.
Bagi Anda, Kristen dewasa yang pernah mengalami kemenangan rohani, ingatlah, kemenangan Anda bukan kebetulan, tetapi karena penyertaan dan pertolongan Allah. Bergantunglah kembali kepada-Nya. Ayat 45:3 mengatakan , bergantunglah dengan total kepada kekuatan Allah. Berhentilah membatasi diri Anda dengan alasan - alasan yang menghambat Anda.
Kultur manusia di zaman ini mengagungkan atau mengandalkan gengsi, posisi, tingkat ekonomi yang tinggi, dan ras tertentu. Tetapi, bagi Anda sebagai orang Kristen, dasar keyakinan Anda adalah Tuhan. Andalkanlah Dia dengan cara tekun berdoa, membaca Alkitab, dan menuruti nasihat-nasihat rohani. Bergantunglah kepada-Nya, tanpa perlu minder atau mengasihi diri karena kelemahan Anda, sebaliknya banggalah kepada Dia yang mendampingi dan menolong Anda. Tunggu apa lagi ? Lakukanlah !
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



1 komentar:
Shallom...!! Trimakasigh karna saya menemukan situs ini... saya percaya bahwa ini tidaklah kebetulan. Tuhanlah yang menuntun saya membaca isi situs ini.. Isinya benar2 telah menguatkan saya kembali saya menjadi bersemangat kemabali untuk ikut dalam pertandinagan rohani kembali. teruslah kembangkan situs Campus Ministry ini saya yakin akan memberkati serta menguatkan banyak orang.....(^.^) Praise Jesus Christ!
Posting Komentar